Pages

Sunday, May 30, 2010

Rahasia air mata pria

Sosok pria sebagai seorang kekasih,
ia akan menangis, atau setidaknya
terluka, kecewa, bersedih hati, jika:
* Ia tidak bisa membahagiakan
wanita yang dikasihinya.
* Kehadirannya sama seperti
ketiadaannya.
* Ia tidak bisa membuat wanita
yang disayanginya tersenyum
bahagia dan wajahnya berbinar
ceria.
* Wanita yang dicintainya (ternyata)
tidak mencintainya dengan sepenuh
hati, atau hanya mencintainya
dengan separuh hati.
* Kekasihnya berpaling ke lain hati,
mencari kehangatan lelaki lain,
mencari pelukan lelaki lain.
* Wanita yang dipujanya (diam-
diam) mengagumi, memuji-muji,
memuja kelebihan cowok lain,
terlebih di depan matanya sendiri,
lalu memandang rendah dirinya.
* Wanita idaman hatinya hanya
mencintai hanya saat memerlukannya, jika tidak sedang
butuh… wanita itu berpaling ke pria lain.
* Ia melihat wanita yang dikasihinya
sedang bermesraan, bergandengan
tangan, berciuman, dan/atau
berselingkuh dengan pria lain.
* Ia dibanding-bandingkan dengan
pria lain, terutama dalam masalah
status, pekerjaan, dan… uang (harta).
* Ia merasa dikhianati oleh wanita
yang begitu dikaguminya
dikasihinya, disayanginya, dan
dicintainya.
* Ia ditinggalkan, dicampakkan,
ditelantarkan, atau ditinggal pergi
begitu saja, diputuskan secara
sepihak oleh wanita yang amat
dicintainya.
* Ia (merasa) dicintai oleh wanita
yang salah, pada saat yang salah (di
waktu yang tidak tepat), dan di
tempat yang salah.
* Ia setia, namun kekasihnya tak
setia.
* Cinta wanita kepadanya dihiasi
dengan kepalsuan. Maksudnya,
wanita itu mencintainya karena ia
memiliki harta, kedudukan,
popularitas. Singkatnya, wanita itu
mau dan mencintai karena sang Pria
“memiliki dunia”. Setelah semuanya
tiada, pria itu ditinggalkan begitu
saja.
* Cinta wanita kepadanya dibingkai
dengan kehampaan. Maksudnya,
wanita itu hanya berpura-pura saja
mencintainya, atau menjadikan
dirinya semata hanya sebagai
pelampiasan, pelarian, pelabuhan
sementara. Ungkapan “Dalam dunia
percintaan, kepura-puraan adalah
hal yang amat menyakitkan!” terasa
kebenarannya.
* Ia terlalu dikekang atau diatur oleh
kekasihnya.
* Ia harus selalu menuruti atau
membenarkan semua kemauan,
keinginan, saran, nasihat, pendapat
dari wanita yang amat dicintainya.
* Wanita yang disayanginya
berubah menjadi baik hanya jika
“ada maunya”.
* Ia melihat wanita yang amat
dicintainya sedang menangis atau
bersedih hati.
* Ia tidak bisa membantu wanita
yang dikasihinya saat wanita
tersebut benar-benar memerlukan
pertolongannya.

Saturday, May 29, 2010

Cerita tentang 'CINTA'

Alkisah di suatu pulau kecil,tinggallah berbagai macam benda-
benda ‘abstrak’ : ada Cinta,
Kesedihan, Kekayaan,
Kegembiraan, dan sebagainya.
Mereka hidup berdampingan
dengan baik. Namun suatu ketika,datang badai menghempas pulau
kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau
itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan
diri. Cinta sangat bingung sebab ia
tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di
tepi pantai mencoba mencari
pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
“Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!”
teriak Cinta. “Aduh! Maaf Cinta!”
kata Kekayaan “Perahuku telah
penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta,
nanti perahu ini tenggelam. Lagi
pula tak ada tempat lagi bagimu di
perahuku ini.” Lalu Kekayaan
cepat-cepat mengayuh perahunya
pergi.
Cinta sedih sekali, namun
kemudian dilihatnya Kegembiraan
lewat dengan perahunya.
“Kegembiraan! Tolong aku!” teriak Cinta. Namun kegembiraan terlalu
gembira karena ia menemukan
perahu sehingga ia tak mendengar
teriakan Cinta. Air makin tinggi
membasahi Cinta sampai ke
pinggang dan Cinta semakin panik.
Tak lama lewatlah Kecantikan.
“Kecantikan! Bawalah aku
bersamamu!” teriak Cinta. “Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku
tak bisa membawamu ikut. Nanti
kamu mengotori perahuku yang
indah ini.” sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. “Oh,
Kesedihan, bawalah aku bersamamu.” kata Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih dan aku
ingin sendirian saja…” kata
Kesedihan sambil terus mengayuh
perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air
makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat
kritis itulah tiba-tiba terdengan
suara, “Cinta! Mari cepat naik keperahuku!” Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua
dengan perahunya. Cepat-cepat
Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera
pergi lagi. Pada saat itu, barulah
Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua
yang menyelamatkannya itu. Cinta
segera menanyakan kepada
seorang penduduk tua di pulau itu,
siapa sebenarnya orang itu. “Oh,
orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu. “Tapi mengapa ia
menyelamatkan aku? Aku tak
mengenalnya. Bahkan teman-
teman yang mengenalku pun enggan menolongku.” tanya Cinta
heran. “Sebab,” kata orang itu,
“Hanya Waktu lah yang tau berapa nilai sesungguhnya dari Cinta
itu…”

Power of love

Sepasang kekasih perempuan dan
laki-laki sedang melaju lebih dari 100
km/jam di jalan dengan sebuah
motor.
Perempuan : Pelan-pelan, aku takut.
Laki-Laki : Tidak,ini menyenangkan.
Perempuan : Tidak, ini sama sekali
tidak menyenangkan. Please, aku
takut!
Laki-Laki : Baik, tapi katakan dulu
bahwa kau mencintaiku.
Perempuan : Aku mencintaimu!
Sekarang pelankan motornya!
Laki-Laki : Sekarang beri aku pelukan
yang erat.
(Lalu Perempuan itu memeluknya)
Laki-Laki : Bisakah kamu melepas
helmku & kamu pakai? Helm ini
sangat mengganggu saya!
(Perempuan itu pun menurutinya)
Keesokan harinya ada berita di koran
sebuah sepeda motor menabrak
gedung karena rem-nya blong.
Ada dua orang di atas motor itu,
tetapi hanya satu orang yang
selamat.

Yang terjadi sebenarnya adalah
bahwa di tengah jalan, Laki-Laki itu
menyadari bahwa rem motor
mereka rusak, tapi dia tidak ingin
membiarkan kekasihnya tahu.
Dia meminta Kekasihnya berkata dia
mencintainya & merasakan
pelukannya, karena dia tau itu untuk
terakhir kali baginya.
Dia lalu menyuruhnya memakai
helm supaya kekasihnya akan tetap
hidup walaupun itu berarti ia yang
akan mati...

Pernahkah kamu mencintai
seseorang sampai sebesar ini ???
Ataukah hanya sebatas
memperhatikannya, peduli,
menelpon / mengirimkannya sms
hanya untuk membuatnya bahagia?
Pernahkah kamu mengatakan "AKU
MENCINTAIMU" padanya?
Ataukah kamu menunggu untuk
mengatakan itu disaat kamu berada
dlm situasi seperti diatas motor itu?
Jika tidak, kamu masih punya
kesempatan untuk mencintainya
lebih lagi.
Jangan menyimpan rasa cinta itu
hanya di dalam hati. Katakan
padanya bahwa kau mencintainya
Karena kamu tidak pernah tau,
apakah besok kamu masih punya
waktu dan kesempatan untuk
mengungkapkannya...

Bunda..

Pada malam itu, Ana bertengkar
dengan ibunya.
Karena sangat marah, Ana segera
meninggalkan rumah tanpa
membawa apapun.
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru
menyadari bahwa ia sama sekali
tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia
melewati sebuah kedai bakmi dan
ia mencium harumnya aroma
masakan.
Ia ingin sekali memesan
semangkuk bakmi, tetapi ia tdk
mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri
cukup lama di depan kedainya, lalu
berkata “Nona, apakah engkau
ingin memesan semangkuk
bakmi ?”
” Ya, tetapi, aku tdk membawa
uang” jawab Ana dengan malu-
malu
“Tidak apa-apa, aku akan
mentraktirmu” jawab si pemilik
kedai. “Silahkan duduk, aku akan
memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik
kedai itu mengantarkan
semangkuk bakmi.
Ana segera makan beberapa suap,
kemudian air matanya mulai
berlinang.
“Adaapa nona?” Tanya si pemilik
kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu
jawab Ana sambil mengeringkan
air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru
kukenal pun memberi aku
semangkuk bakmi !, tetapi,…
ibuku sendiri, setelah bertengkar
denganku, mengusirku dari rumah
dan mengatakan kepadaku agar
jangan kembali lagi ke rumah ”
“Kau, seorang yang baru kukenal,
tetapi begitu peduli denganku
dibandingkan dengan ibu
kandungku sendiri ” katanya
kepada pemilik kedai
Pemilik kedai itu setelah
mendengar perkataan Ana,
menarik nafas panjang dan berkata
“Nona mengapa kau berpikir
seperti itu? Renungkanlah hal ini,
aku hanya memberimu
semangkuk bakmi dan kau begitu
terharu. Ibumu telah memasak
bakmi dan nasi utukmu saat kau
kecil sampai saat ini, mengapa kau
tidak berterima kasih kepadanya?
Dan kau malah bertengkar
dengannya ”
Ana, terhenyak mendengar hal
tsb.
“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal
tsb? Utk semangkuk bakmi dr org
yg baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada
ibuku yg memasak untukku
selama bertahun-tahun, aku
bahkan tidak memperlihatkan
kepedulianku kepadanya. Dan
hanya karena persoalan sepele,
aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan
bakminya, lalu ia mnguatkan
dirinya untuk segera pulang ke
rumahnya.
Saat berjalan ke rumah, ia
memikirkan kata-kata yg hrs
diucapkan kpd ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu
rumah, ia melihat ibunya dengan
wajah letih dan cemas.
Ketika bertemu dengan Ana,
kalimat pertama yang keluar dari
mulutnya adalah “Ana kau sudah
pulang, cepat masuklah, aku telah
menyiapkan makan malam dan
makanlah dahulu sebelum kau
tidur, makanan akan menjadi
dingin jika kau tdk memakannya
sekarang ”
Pada saat itu Ana tdk dapat
menahan tangisnya dan ia
menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan
sangat berterima kasih kpd org lain
disekitar kita untuk suatu
pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita.
Tetapi kpd org yang sangat dekat
dengan kita (keluarga) khususnya
orang tua kita, kita harus ingat
bahwa kita berterima kasih kepada
mereka seumur hidup kita.

Ordinary man (true story)

Bayi yang dikandung Nania tidak
juga mau keluar. Sudah lewat dua
minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-
bintik. Sudah tua, Nania. Harus
segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan
langganan Nania memasukkan
sejenis obat ke dalam rahim Nania.
Obat itu akan menimbulkan
kontraksi hebat hingga perempuan
itu merasakan sakit yang teramat
sangat. Jika semuanya normal,
hanya dalam hitungan jam, mereka
akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat
tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke
kamar mandi, dan menunaikan
shalat di sisi tempat tidur.
Sementara kakak-kakak serta
orangtua Nania belum satu pun
yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah
dimasukkan, delapan jam setelah
obat pertama, Nania tak
menunjukkan tanda-tanda akan
melahirkan. Rasa sakit dan melilit
sudah dirasakan Nania per lima
menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada
perubahan, Bu. Sudah bertambah
sedikit, kata seorang suster empat
jam kemudian menyemaikan
harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih
sedikit. Nania dan Rafli
berpandangan. Mereka sepakat
suster terakhir yang memeriksa
memiliki sense of humor yang
tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru
pembukaan dua. Ketika pembukaan
pecah, didahului keluarnya darah,
mereka terlonjak bahagia sebab
dulu-dulu kelahiran akan mengikuti
setelah ketuban pecah. Perkiraan
mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli
tercengang. Cemas. Nania tak bisa
menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi
ditanggungnya. Kondisi perempuan
itu makin payah. Sejak pagi tak
sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya
melihat sang istri memperjuangkan
dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin
terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania
berpandangan. Kenapa tidak dari
tadi kalau begitu? Bagaimana jika
terlambat?
Mereka berpandangan, Nania
berusaha mengusir kekhawatiran. Ia
senang karena Rafli tidak
melepaskan genggaman tangannya
hingga ke pintu kamar operasi. Ia
tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring
ke ruangan serba putih. Sebuah
sekat ditaruh di perutnya hingga dia
tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu
dimainkan. Nania merasa berada
dalam perahu yang diguncang
ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya, dan langkah-langkah
cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari
luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan
keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah
sumber air yang meluap, berwarna
merah. Ada varises di mulut rahim
yang tidak terdeteksi dan entah
bagaimana pecah! Bayi mereka
selamat, tapi Nania dalam kondisi
kritis.
Mama Nania yang baru tiba,
menangis. Papa termangu lama
sekali. Saudara-saudara Nania
menyimpan isak, sambil
menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer
yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang
mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya dan tak bisa dihentikan,
menyebar dan meluas cepat seperti
kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh
doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma.
Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia
harus membagi perhatian bagi
Nania dan juga anak-anak. Terutama
anggota keluarganya yang baru, si
kecil. Bayi itu sungguh
menakjubkan, fisiknya sangat kuat,
juga daya hisapnya. Tidak sampai
empat hari, mereka sudah oleh
membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara
Nania terkadang ikut menunggui
Nania di rumah sakit, sesekali
mereka ke rumah dan melihat
perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan
antara pihak keluarga Nania dengan
Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia
nyaris tak pernah meninggalkan
rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya
pihak perusahaan tempat Rafli
bekerja mengerti dan memberikan
izin penuh. Toh, dedikasi Rafli
terhadap kantor tidak perlu
diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang
dan malam. Dibawanya sebuah
Quran kecil, dibacakannya dekat
telinga Nania yang terbaring di
ruang ICU. Kadang perawat dan
pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak famili mereka,
melihat lelaki dengan penampilan
sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak
mendengar, Nania bisa merasakan
kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu
dibisikkannya berulang-ulang sambil
mencium tangan, pipi dan kening
istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan
pihak keluarga mulai pesimis dan
berfikir untuk pasrah, Rafli masih
berjuang. Datang setiap hari ke
rumah sakit, mengaji dekat Nania
sambil menggenggam tangan
istrinya mesra. Kadang lelaki itu
membawakan buku-buku kesukaan
Nania ke rumah sakit dan
membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini
dan itu. Sambil tak bosan-bosannya
berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam
penantian dilewatkan Rafli dalam
sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir
Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di
sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa
kehadiran Nania. Anak-anak
merindukan ibunya. Di luar itu Rafli
tak memedulikan yang lain, tidak
wajahnya yang lama tak bercukur,
atau badannya yang semakin kurus
akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan
semua antusias perempuan itu di
mata, gerak bibir, kernyitan kening,
serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah
tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli
terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama
ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli
menangis, menggenggam tangan
Nania dan mendekapkannya ke
dadanya, mengucapkan syukur
berulang-ulang dengan airmata
yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak
penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang
diucapkannya beratus kali dalam
doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah
merawat Nania selama sebelas
tahun terakhir. Memandikan dan
menyuapi Nania, lalu mengantar
anak-anak ke sekolah satu per satu.
Setiap sore setelah pulang kantor,
lelaki itu cepat-cepat menuju rumah
dan menggendong Nania ke teras,
melihat senja datang sambil
memangku Nania seperti remaja
belasan tahun yang sedang jatuh
cinta.
Ketika malam Rafli mendandani
Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat
perempuan cantik itu,
memakaikannya gaun tidur. Ia ingin
Nania selalu merasa cantik. Meski
seringkali Nania mengatakan itu tak
perlu. Bagaimana bisa merasa cantik
dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang
terus-menerus dan tak kenal lelah
selalu meyakinkan Nania,
membuatnya pelan-pelan percaya
bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia.
Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak
mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu
menyertakan Nania. Belanja, makan
di restoran, nonton bioskop,
rekreasi ke manapun Nania harus
ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli,
melakukan hal yang sama, selalu
melibatkan Nania. Begitu bertahun-
tahun.
Awalnya tentu Nania sempat
merasa risih dengan pandangan
orang-orang di sekitarnya. Mereka
semua yang menatapnya iba, lebih-
lebih pada Rafli yang berkeringat
mendorong kursi roda Nania ke
sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang
bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari,
mereka, orang-orang yang
ditemuinya di jalan, juga tetangga-
tetangga, sahabat, dan teman-
teman Nania tak puas hanya
memberi pandangan iba, namun
juga mengomentari, mengoceh,
semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain
mungkin sudah cari perempuan
kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki
seseorang yang menerima dia apa
adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa
adanya, kalian lihat bagaimana
suaminya memandang penuh cinta.
Sedikit pun tak pernah bermuka
masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari
kakaknya yang tiga orang, Papa dan
Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan
dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani,
merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania
menyadari itu kemudian. Orang-
orang di luar mereka memang tetap
berbisik-bisik, barangkali selamanya
akan selalu begitu. Hanya saja,
bukankah bisik-bisik itu kini berbeda
bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-
anaknya bermain basket dengan
ayah mereka.. Sesekali perempuan
itu ikut tergelak melihat kocak
permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan.
Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa,
rumah besar yang mereka tempati,
kehidupan yang lebih dari yang bisa
dia syukuri. Meski tubuhnya tak
berfungsi sempurna. Meski
kecantikannya tak lagi sama karena
usia, meski karir telah direbut takdir
dari tangannya.
Waktu telah membuktikan
segalanya. Cinta luar biasa dari laki-
laki biasa yang tak pernah berubah,
untuk Nania.

Friday, May 28, 2010

Frozen

Misty windows hide your empty
eyes..

Every moment, every whisper seperates you from me..

I've been screaming, won't you let
me in?..

Let me see a trace of the places hidden under your skin..

Answer me
Until the day that you do i'll be one step behind you..

Answer me
Until the day that you do i'll be waiting here for you..

Needles stick me when you look
away..

And your silence sounds like deafening screams to me..

I've been waiting, won't you open
your heart? and let me in..please let me in..

Free your mind from doubts
All you have is now..

Free your mind from shame it will only bring you pain..

Thursday, May 27, 2010

Menerima apa adanya (ikhlas)

Seorang pria dan kekasihnya
menikah dan acaranya
pernikahannya sungguh megah.
Semua kawan-kawan dan keluarga
mereka hadir menyaksikan dan
menikmati hari yang berbahagia
tersebut.
Suatu acara yang luar biasa
mengesankan.
Setiap pasang
mata yang memandang setuju
mengatakan bahwa mereka
sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri
berkata kepada suaminya, "Sayang,
aku baru membaca sebuah artikel di
majalah tentang bagaimana
memperkuat tali pernikahan"
katanya sambil menyodorkan
majalah tersebut.
"Masing-masing kita akan mencatat
hal-hal yang kurang kita sukai dari
pasangan kita. Kemudian, kita akan
membahas bagaimana merubah
hal-hal tersebut dan membuat
hidup pernikahan kita bersama lebih
bahagia....."
Suaminya setuju dan mereka mulai
memikirkan hal-hal dari
pasangannya yang tidak mereka
sukai dan berjanji tidak akan
tersinggung ketika pasangannya
mencatat hal-hal yang kurang baik
sebab hal tersebut untuk kebaikkan
mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk
berpisah kamar dan mencatat apa
yang terlintas dalam benak mereka
masing-masing. Besok pagi ketika
sarapan, mereka siap
mendiskusikannya.
"Aku akan mulai duluan ya", kata
sang istri. Ia lalu mengeluarkan
daftarnya. Banyak sekali yang
ditulisnya,sekitar 3 halaman.
Ketika ia mulai membacakan satu
persatu hal yang tidak dia sukai dari
suaminya, ia memperhatikan
bahwa air mata suaminya mulai
mengalir.
"Maaf, apakah aku harus berhenti ?"
tanyanya.
"Oh tidak, lanjutkan..." jawab
suaminya
Lalu sang istri melanjutkan
membacakan semua yang terdaftar,
lalu kembali melipat kertasnya
dengan manis diatas meja dan
berkata dengan bahagia.
"Sekarang gantian ya, engkau yang
membacakan daftarmu".
Dengan suara perlahan suaminya
berkata "Aku tidak mencatat
sesuatupun dikertasku. Aku berpikir
bahwa engkau sudah sempurna,
dan aku tidak ingin merubahmu.
Engkau adalah dirimu sendiri.
Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak
satupun dari pribadimu yang
kudapatkan kurang.... "
Sang istri tersentak dan tersentuh
oleh pernyataan dan ungkapan cinta
serta isi hati suaminya. Bahwa
suaminya menerimanya apa
adanya...
Ia menunduk dan menangis.....

Dalam hidup ini,banyak kali kita
merasa dikecewakan, depressi, dan
sakit hati. Sesungguhnya takperlu
menghabiskan waktu memikirkan
hal-hal tersebut.
Hidup ini penuh dengan keindahan,
kesukacitaan dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan
waktu memikirkan sisi yang
buruk,mengecewakan dan
menyakitkan jika kita bisa
menemukan banyak hal-hal yang
indah di sekeliling kita?
Kita akan menjadi
orang yang berbahagia jika kita
mampu melihat dan bersyukur
untuk hal-hal yang baik dan
mencoba melupakan yang buruk.